Waktu

Saya selalu tidak nyaman dengan dia

Sebagiannya ibu tiri memberi kasih bagai ibu rahim

Sebagiannya yang lain tetaplah ibu tiri pada dongeng Cinderella

Seperti itulah saya terhadap dia dengan doktrin ketidaknyamanan

Sebagian dia baik–memberi segar kepada yang haus akan bahagia

Bagian lainnya–dia adalah pecundang dengan arogansinya

Tetap berjalan meski saya ingin dia berhenti

Tetap melaju tanpa menoleh

“Hai, berhentilah sejenak! Saya mohon”

Secepat itu–sepersekian detik bicaraku dia buat masa lalu

Dia yang selalu berputar teratur bersama putaran mimpiku

Dia adalah waktu

Dengan simboliknya yang kerap dilirik, dibalik material kaca dengan angka genap melingkar di pergelangan

Saya ingin menjadi saya yang dulu sebelum saya yang sekarang

Saya ingin menjadi saya yang itu sebelum saya terlambat

Saya ingin menjadi saya yang ini saat saya dibuat nyaman oleh dia

Iklan

Title

Sore ini bumi basah, menanti esok sore untuk menjadi uap. Menuju embun terbirai sinar Agung

Angkatan partikel bersiap mengudara menyusul jet tempur terselubung kalut

Segala yang basah akan menguap. Pun tetes air di pelupuk mata

Wajahmu bersimbah air, mengalir deras dari ujung tatap

Pintu air terbuka, kacau menyeruak

Sungai atas nama kasih, menjadi lautan yang kusebut doa

Menatap sendu, menanti sebuah kehadiran

Kehadiranku atau kehadiran tuan pengantar kabar ketiadaan

Bersama hiruk pikuk berita peperangan

Berperang dengan ketabahan, berjuang demi sebuah title

Tiny Human

Yang mengajarkan cara bangkit, arti hidup dalam versimu

Kala tangis membawa sumringah di setiap sudut rumah, kepada orang yang berhati kasih

Tangis kelaparan yang kalian sebut lucu, cakaran jemari yang berbekas rindu

Intuisi mencari dimana puting wanita berada, dekapan hangat mengalun bersama degup jantung

Membentuk ritme kebahagiaan satu garis keturunan

Saat mata saling menilik, menggali lebih dalam tak tahu ujung

Tak cukup untuk seribu tanya, seperti doa yang tak kenal maut

Menatapku selayaknya remaja bergelut dalam kedewasaan dunia

Nyatanya bayi merah yang masih rapuh, mengepal tangan, tak tahu apa yang digenggam

Earth’s Feel

Kepada bumi yang mengasihi

Yang teratur melingkari surya, yang menari tenang pada sumbunya

Sinambung menjaga bait-bait yang bernyawa

Memutar harmoni kala fajar hingga sudut malam terbina

Kenapa kau bergetar hebat semalam?

Laiknya orok bermandikan salju, meronta atas ketidaknyamanan, cemas pada awal kehancuran

Kau sudah renta. Ribuan masehi terlewat, merubah yang baik menjadi kelam, merubah yang suci menjadi pendosa yang berkuasa

Membalas perlakuan dari rasa lara yang kau pendam

Menyisakan aliran retak kepada gedung yang berpijak, bak retakan hati perawan kala berahi kandas

Sakitnya terhunus beton-beton tamak seperti akupuntur dengan sembilu biadab

Tanpa sedikitpun menyisakan elemen hijau pada sudut ruang kenestapaan

Sabarnya,

Kau tetap menunggu elemen itu hadir

Solar Desease

Menggebu dalam hasrat kala menatap yang terbentang

Mengitari alas hijau, bercumbu dengan udara, menari bersama angin

Membau aroma pinus, bermanja bersama mentari. Matahari…

Partikel Maha Panas, pesohor bimasakti, bintang perenggut nyawa

Nyawa itu adalah aku

Saat animo menjadi semu, nyata terpasung dalam sangkar

Terpedaya atap perlindungan, tertawan tembok ketidakberuntungan

Xeroderma Pigmentosum

Satu makna, dua kata, seribu lara

A Short Life Story

Perjalanan seribu kata

Melewati koma, tertantang seru, menerka tanya, terhenti titik

Menilik alur, merangkai konflik, menyeting latar, membentuk tokoh

Protagonis, pion yang siap dipuja

Antagonis, tahu semesta membencinya

Tritagonis, wahai anak tiri para penulis

Memadu abjad, merangkul kata, menata kalimat, berujung cerita

Ini kisah satu lakon

Terlahir lewat khayalan, tumbuh bersama konflik fana, berkembang pada klimaksnya, lalu menjadi alpa

Terabai setelah halaman terakhir berakhir titik

Bagai hikayat anak manusia

Terlahir melalui lubang suci, tumbuh karena masakan wanita tua, berkembang bersama petuah para terhormat, menua diantara do’a umur panjang

Mangkat dan terkubur dalam lini masa selanjutnya